KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,
Tuhan segenap alam, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada kli Hepatitis”.
Makalah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Sistem Pencernaan. Makalah ini
berisi tentang Pengertian, Etiologi dan Epidemologi, Tanda dan Gejala,
Patologi, Manifestasi dan Gambaran Kliis, Patofisiologi, Komplikasi,
Pengobatan, Pencegahan dan asuhan keperawatan pada klien dengan Hepatitis.
Demikian semoga makalah ini bisa menjadi tambahan
referensi untuk mahasiswa keperawatan. Kami sadar bahwa makalah masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun khususnya dari dosen penanggung jawab mata kuliah agar dalam
pembuatan makalah berikutnya bisa lebih sempurna.
Akhir kata kami berharap makalah ini dapat bermanfaat
bagi banyak orang. Terima
kasih.
Kuningan,
Oktober 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar
Belakang
Hepatitis
virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi
pada sel- sel hati yang menghasilakan kumpulan perubahan klinis, biokimia serta
seluler yang khas. Sampai saat ini telah teridentifikasi lima tipe hepatitis
virus yang pasti: hepatitis A, B, C, D, E. Hepatitis A dan E mempunyai cara
penularan yang serupa ( jalur fekal – oral ) sedangkan hepatitis B, C, dan D
memilki banyak karateristik yang sama.
Hepatitis kemungkinan terjadi
sebagai infeksi sekunder selama perjalanan infeksi dengan virus-virus lainnya,
seperti :
- Cytomegalovirus
- Virus Epstein-Barr
- Virus Herpes simplex
- Virus Varicella-zoster
Klien biasanya sembuh secara total
dari hepatitis, tetapi kemungkinan mempunyai penyakit liver residu. Meskipun
angka kematian hepatitis relatif lama, pada hepatitis virus akut bisa berakhir
dengan kematian.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Mahasiswa dapat mengetahui masalah tentang hepatitis dan
asuhan keperawatan pada klien dengan hepatitis.
1.2.2 Tujuan Khusus
Secara khusus “ Hepatitis “ ini
disusun supaya:
- Mahasiswa dapat mengetahui
tentang pengertian, etiologi, klasifikasi, manisfestasi klinis,patofisiologi,
pemeriksaan penunjang,penatalaksanaan, serta proses keperawatan.
- Mahasiswa dapat
mengidentifikasi asuhan keperawatan pada klien dengan hepatitis.
- Mahasiswa dapat
mengidentifikasi pendidikan kesehatan yang diperlukan pada pasien yang
dirawat dengan keluhan hepatitis.
- Agar makalah ini dapat menjadi
bahan ajar bagi mahasiswa lainnya tentang berbagai hal yang berhubungan
dengan hepatitis.
BAB II
KONSEP DASAR
2.1 Definisi
Hepatitis adalah penyakit
peradangan hati yang dapat disebabkan oleh berbagai kausa, termasuk infeksi
virus atau pajana ke bahan – bahan toksik. Pada hepatitis virus, Peradangan
hati yang berkepanjangan atau berulang, yang biasanya berkaitan dengan
alkoholisme kronik, dapat menyebabkab sirosis, suatu keadaan berupa penggantian
hepatosit yang rusak secara permanen oleh jaringan ikat. Jaringan hati memiliki
kemampuan mengalami regenerasi, dan dalam keadaan normal mengalami pertukaran
sel yang bertahap. Apabila sebagian jaringan hati rusak, jaringan yang rusak
tersebut dapat diganti melalui peningkatan kecepatan pembelahan sel – sel yang
sehat. Tampaknya terdapat suatu faktor dalam darah yang bertanggung jawab
mengatur proliferasi sel hati, walaupun sifat dan mekanisme factor pengatur ini
masih merupakan misteri. Namun, seberapa cepat hepatosit dapat diganti memiliki
batas. Selain hepatosit, di antara lempeng – lempeng hati juga ditemukan
beberapa fibroblast ( sel jaringan ikat ) yang membentuk jaringan penunjang
bagi hati. Bila hati berulang – ulang terpajan ke bahan – bahan toksik, misalnya
alcohol, sedemikian seringnya, sehingga hepatosit baru tidak dapat beregenerasi
cukup cepat untuk mengganti sel – sel yang rusak, fibroblast yang kuat akan
memanfaatkan situasi dan melakukan proliferasi berlebihan. Tambahan jaringan
ikat ini menyebabkan ruang untuk pertumbuhan kembali hepatosit berkurang.
Hepatitis adalah suatu proses
peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan
oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi,
1999). Hepatitis adalah peradangan dari sel-sel liver yang meluas/
menyebar , hepatitis virus merupakan jenis yang paling dominan. Luka pada organ
liver dengan peradangan bisa berkembang setelah pembukaan untuk sejumlah
farmakologi dan bahan kimia dari inhalasi, ingesti, atau pemberian obat secara
parenteral (IV) . Toxin dan Drug induced Hepatitis merupakan hasil dari
pembukaan atau terbukanya hepatotoxin, seperti : industri toxins, alkohol dan
pengobatan yang digunakan dalam terapi medik.
Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis
peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari
virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis
juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G.
Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( hepatitis A ) dapat
pula hepatitis kronik (hepatitis B,C) dan adapula yang kemudian menjadi kanker
hati ( hepatitis B dan C ). hepatitis yang biasanya disebabkan
oleh obat-obatan, alkohol (hepatitis alkoholik), dan obesitas serta
gangguan metabolisme yang menimbulkan nonalkoholik
steatohepatitis (NASH) disebut Hepatitis Nonvirus.
2.2 Epidemologi
Insiden hepatitis virus yang terus meningkat semakin
menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit tersebut penting karena mudah
ditularkan, memiliki morbiditas yang tinggi dan menyebabkan penderitanya absen
dari sekolah atau pekerjaan untuk waktu yang lama. 60% sampai 90% kasus–kasus
hepatitis virus diperkirakan berlangsung tanpa dilaporkan. Keberadaan
kasus-kasus subklinis, ketidakberhasilan untuk mengenali kasus–kasus yang
ringan dan kesalahan diagnosis diperkirakan turut menjadi penyebab pelaporan yang
kurang dari keadaan sebenarnya. Meskipun kurang lebih 50% orang dewasa di
Amerika Serikat telah memilki antibodi terhadap virus hepatitis A, banyak orang
tidak mengingat kembali episode atau kejadian sebelumnya yang memperlihatkan
gejala hepatitis
2.3 etiologi
1. Virus
hepatitis A, B, C, D, E dan G yang masing-masing menyebabkan tipe hepatitis
yang berbeda.
2. Alkohol
3. Keracunan Obat-obatan
2.4 Klasifikasi
- Virus Hepatitis yang Ditularkan
secara Parenteral dan Seksual
Hepatitis B
Hepatitis
B adalah virus yang sering dipelajari karena dapat diuji, prevalensi dari
penyakit. Morbiditas dan mortalitas berhubungan dengan penyakit.
Infeksi hepatitis B terdapat
diseluruh dunia, menyebabkan 250.000 kematian per tahun. Sejak 1982, vaksin
efektif dari hepatitis B tersedia dan adanya kampanye penurunan penyakit akan
memungkinkan penurunan dampak penyakit ini di masa depan.
Penularan. Daerah dimana penyakit ini endemik
( Kutub, Afrika, Cina, Asia Selatan dan Amazon ), bentuk penularan yang sering
adalah secara perinatal dari ibu terinfeksi pada bayinya. Di Negara berkembang
dengan prevalensi penyakit lebih rendah, rute utama penularan adalah seksual
dan parenteral. Di Amerika Serikat, populasi risiko tinggi meliputi laki – laki
homoseksual, pengguna obat intravena, petugas perawatan kesehatan dan mereka
yang mendapat transfusi darah.
Patofisiologi. Virus harus dapat masuk ke aliran
darah dengan inokulasi langsung, melalui mebran mukosa atau merusak kulit untuk
mencapai hati. Di hati, replikasi perlu inkubasi 6 minggu sampai 6 bulan
sebelum penjamu mengalami gejala. Beberapa infeksi tidak terlihat untukmereka
yang mengalami gejala, tingkat kerusakan hati, dan hubungannya dengan demam
yang diikuti ruam, kekuningan, arthritis, nyari perut, dan mual. Pada kasus
yang ekstrem, dapat terjadi kegagalan hati yang diikuti dengan ensefalopati.
Mortalitas dikaitkan dengan keparahan mendekati 50%.
Infeksi
primer atau tidak primer tampak secara klinis, sembuh sendiri dalam 1 sampai 2
minggu untuk kebanyakan pasien. Kurang dari 10% kasus, infeksi dapat menetap
selama beberapa dekade. Hepatitis B dipertimbangkan sebagai infeksi kronik pada
saat pasien mengalami infeksi sisa pada akhir 6 bulan. Komplikasi berhubungan
dengan hepatitis kronik dapat menjadi parah, dengan kanker hati, sirosis dan
asites terjadi dalam beberapa tahun sampai dengan puluhan tahun setelah infeksi
awal.
Diagnosis. Tes serologik untuk hepatitis akan
member informasi diagnostik dan informasi tentang tingkat penularandan
kemungkinan tahap penyakit. Tes dilakukan langsung berhubungan dengan virus dan
antibodi yang dihasilkan penjamu dalam merespons protein tersebut. Virus
mempunyai inti dan bagian luar sebagai pelindung. Protein behubungan dengan
bagian antigen inti dan antigen permukaan. Tes laboratorium untuk antigen inti
tidak tersedia, tetapi antigen permukaan sering menunjukan HBsag, yang dapat
didetekasi, dalam beberapa minggu awal infeksi. Peningkatan titer selama
beberapa minggu dan juga terjadi penurunan pada tingkat yang tidak dapat
dideteksi. Adanya HBsag menadakan infeksi saat itu dan tingkat penularan
relative tinggi. Antigen lain yang merupakan bagian dari virus disebut e
antigen ( HBeag ). HBeag adalah penanda ketajaman yang sangat sensitive
karena dapat dideteksi dalam perkiraan terdekat pada waktu penyakit klinis dan
pada saat di mana tampak risiko menjadi lebih besar untuk menular.
Vaksin. Vaksin hepatiis B dihasilkan dengan
menggunakan antigen hepatitis B untuk menstimulasi produksi antibodi dan untuk
memberikan perlindungan terhadap infeksi, keamanan, dan keefektifannya
mendekati 90% dari vaksinasi. Karena virus hepatitis B mudah ditularkan dengan
jarum suntik di area perawatan kesehatan. Penurunan infeksi perinatal dan
risiko penularan terjadi setelah kelahiran, vaksin hepatitis B diberikan secara
rutin pada bayi setelah lahir. Vaksinasi individual ( yang sebelumnya tidak
terinfeksi ) akan memiliki serologi hepetitis B yang positif hanya pada HBsab.
Ini menjamin kekebalan yang dihasilkan olah vaksin yang dapat dibedakan dari
produksi alami, saat inti antbodi juga ada.
Hepatitis C
Sampai
saat ini, hepatitis Non- A, Non- B menunjukan gambaran virus hepatitis yang
bukan hepatitis A, B atau agens penyebab lain. Banyak dari
hepatitis Non- A, Non- B ditularkan melalui parenteral. Hal ini sebelumnya
tidak diketahui dan virus ini juga tidak diketahui dan sekarang
teridentifikasidan disebut hepatitis C. Kemudian, tes antibodi untuk
memeriksa pasien terhadap agens ini telah tersedia.
Patofisiologi. Hepatitis C sekarang diperkirakan dapat
menginfeksi sekitar 150.000 orang per tahun di Amerika Serikat. Hal ini
dianggap menjadi penyakit yang ditularkan hampir selalu melalui transfusi
darah. Namun, ada bukti bahwa virus ditularkan melalui cara perenteral lain (
menggunakan bersama jarun yang terkontaminasi oleh pengguna obat intravena dan
tusukan jarum yang tidak disengaja dan cedera lain pada petugas kesehatan ).
Terdapat bukti lanjut dimana virus ditularkan melalui kontak seksual.
Diagnosis. Tes serologik saat bisa dilakukan
untuk mendeteksi virus hepatitis C dengan antibodi yang diinterpretasi secara
terbatas. Banyak pasien yang memiliki gejala klinik dari virus hepatitis perlu
dilakukan tes.
Tes fungsi hati digunakan untuk mendapat status
hepatitis. Penyakit ini tidak terlalu dipahami pada saat ini, tapi peningakatan
dan biasanya ditemukan penurunan berulang enzim hati. Dengan informasi ini dan
tanda klinis lain, dipercaya bahwa sebanyak separuh dari semua pasien mengalami
infeksi hepatitis C yang berkembang menjadi infeksi kronik. Hal ini telah
menunjukan penyebab utama penyakit hati kronik dan sirosis di Amerika Serikat.
Penatalaksanaan. Saat ini, tidak
diketahui terapi, vaksin atau agens profilaktik pasca pemajananyang diakui
untuk hepatitis C. Petugas perawatan kesehatan harus mengikuti prinsip
kewaspadaan umum untuk meminimalkan risiko penularan karena pekerjaan. Prinsip
ini didasarkan pada pemahaman bahwa populasi yang terinfeksi adalah carrier penyakit
ini. Perhatian terhadap jarum dan kewaspadaan yang tepat harus digunakan pada
semua pasien.
Hepatitis D
Hepatitis D adalah virus yang bergantung pada virus
hepatitis B yang lebih kompleks untuk bertahan. Hepatitis D hanya merupakan
risiko untuk mereka yang mempunyai antigen permukaan hepatitis B positif
Hepatitis D dicurigai ketika pasien sakit akut dengan
gejala baru atau berulang dan sebelumnya telah mengalami hepatitis B atau
sebagai carrier hepatitis B.
Tidak ada tindakan spesifik untuk hepatitis. Pencegahan
untuk virus ini dicapai sebagai keuntungan sekunder dari vaksin hepatitis B.
Perilaku preventif terhadap virus darah ini ( tidak menggunakan jarum
bergantian dan menggunakan kondom pada saat berhubungan seksual ) harus
ditekankan pada orang yang terinfeksi hepatitis B yang tidak terinfeksi
hepatitis D.
- Virus
hepatitis yang Ditularkan melalui Rute Fekal – Oral
Hepatitis A
Hepatitis A adalah virus yang hampir selalu ditularkan
melalui rute fekal – oral. Virus ini menimbulkan hepatitis akut tanpa keadaan
kronik atau menetap seperti yang ditunjukan oleh virus hepatitis darah.
Pada
anak,penyakit ini sering tidak dikenali atau tampak dengan keluhan tidak parah.
Gejala lebih terlihat pada orang dewasa dan dapat berupa kelemahan sampai
dengan demam, ikterik, mual dan muntah. Penyakit ini baisanya berlangung 1
sampai 3 minggu. Pasien jarang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan pada
saat gejala timbul, sangat kecil kemungkinan menular pada orang lain.
Karena dapat ditularkan dengan makanan dan air yang
terkontaminasi, hepatitis A dapat menjadi potensi epidemic di Negara dengan
penanganan yang buruk. Petugas penyiapan makanan yang terinfeksi mempunyai
potensi penularan penyakit pada orang lain jika kebersihan diri tidak dilakukan
dengan baik.
Tes antibodi
hepatitis A yang tersedia mendeteksi IgM yang menunjukan infeksi akut atau yang
baru terjadi.atau IgG yang menunjukan infeksi yang sudah sembuh.
Hepatitis E
Hepatitis E adalah infeksi virus yang menyebar melalui
kontaminasi makanan dan air melalui jalur fekal – oral. Sampai dengan saat ini,
infeksi disebut dengan hepatitis enteric Non- A Non-
B. Diagnosa
dibuat dengan menyingkirkan hepatitis A, B, dan C dan menentukan yang paling
mungkin dari sumber makanan atau air yang terkontaminasi. Sekarang tes untuk
antibodi untuk hepatitis E telah tersedia, studi epidemologi akan sangat
terfasilitasi
Hepatitis
E telah jarang ditemukan di Amerika Serikat, tetapi berhubungan dengan epidemic
dari air yang terkontaminasi di Asia, Afrika, dan Republik Soviet. Di Amerika
Serikat, hepatitis E harus dipertimbangkan pada beberapa orang yang telah
melakukan perjalanan keluar negeri dan mempunyai gejala virus hepatitis tetapi
serologic negative untuk virus hepatitis lain.
- Gambaran klinis
Gambaran
klinis hepatitis virus dapat berkisar dari asimtomatik sampai penyakit
mencolok, kegagalan hati dan kematian. Terdapat tiga stadium pada semua jenis
hepatitis: stadium prodromal, stadium ikterus, dan periode kovalensasi
(pemulihan)
- Stadium prodromal, disebut
periode praikterus, dimulai setelah periode masa tunas virus selesai dan
pasien mulai memperlhatkan tanda-tanda penyakit. Stadium
ini disebut praikterus karena ikterus belum muncul. Individu akan sangat
infeksius pada stadium ini. Antibody terhadap virus biasanya belum
dijumpai. Stadium ini berlangsung 1-2 minggu ditandai oleh :
- Malese umum
- Rasa lelah
- Gejala-gejala
infeksi saluran napas atas
- Mialgia (nyeri otot)
- Keengganan terhadap sebagian
besar makanan
- Stadium ikterus adalah stadium
kedua hepatitis virus, dan dapat berlangsung 2-3 minggu atau lebih. Pada
sebagian besar orang, stadium ini ditandai oleh, seperti diisyaratkan oleh
namanya, timbulnya ikterus. Manifestasi lain adalah :
- Memburuknya semua gejala yang
ada pada stadium prodormal
- Pembesaran dan nyeri hati
- Splenimogali
- Mungkin
gatal (pruritus) di kulit
- Stadium pemulihan dalah stadium
ketiga hepatitis virus dan biasanya timbul dalam4 bulan untuk hepatitis B
dan C dan dalan 2-3 bulan untuk hepatitis A. Selama periode ini :
- Gejala-gejala mereda, termasuk
ikterus
- Nafsu makan pulih
2.6
Patofisiologi
Virus hepatitis yang
menyerang hati menyebabkan peradangan dan infiltrat pada hepatocytes oleh sel
mononukleous. Proses ini menyebabkan degrenerasi dan nekrosis sel perenchyn
hati.
Respon peradangan menyebabkan pembekakan dalam memblokir
sistem drainage hati, sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Keadaan ini
menjadi statis empedu (biliary) dan empedu tidak dapat diekresikan kedalam
kantong empedu bahkan kedalam usus, sehingga meningkat dalam darah sebagai
hiperbilirubinemia, dalam urine sebagai urobilinogen dan kulit hapatoceluler
jaundice.
Hepatitis terjadi dari
yang asimptomatik samapi dengan timbunya sakit dengan gejala ringan. Sel hati
mengalami regenerasi secara komplit dalam 2 sampai 3 bulan lebih gawat bila
dengan nekrosis hati dan bahkan kematian. Hepattis dengan sub akut dan kronik
dapat permanen dan terjadinya gangguan pada fungsi hati. Individu yang dengan
kronik akan sebagai karier penyakit dan resiko berkembang biak menjadi penyakit
kronik hati atau kanker hati.
Pemeriksaan Diagnostik
- Tes
fungsi hati : abnormal (4-10 kali dari normal). Catatan : merupakan
batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dengan nonvirus
- AST(SGOT atau ALT(SGPT) : awalnya meningkat. Dapat
meningkat satu sampai dua minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun
- Darah lengkap : SDM menurun sehubungan dengan
penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati atau mengakibatkan perdarahan)
- Leucopenia : trombositopenia mungkin ada
(splenomegali)
- Diferensial darah lengkap : lekositosis,
monositosis, limfosit atipikal, dan sel plasma
- Alkali fosfatase : agak meningkat (kecuali ada
kolestasis berat)
- Fesses
: warna tanak liat, steatorea (penurunan fungsi hati)
- Albumin
serum : menurun
- Gula
darah : hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fusngsi hati)
- Anti-HAV
IGM : Positif pada tipe A
- HBSAG
: dapat positif (tipe B) atau negative (tipe A). catatan : merupakan
diagnostic sebelum terjadi gejala kinik
- Massa protrombin : mungkin memanjang (disfungsi
hati)
- Bilirubin serum : diatas 2,5 mg/100mm (bila diatas
200mg/mm, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis
seluler)
- Tes eksresi BSP : kadar darah meningkat
- Biaosi hati : menentukan diagnosis dan luasnya
nekrosis
- Scan hati : membantu dalam perkiraan beratnya
ketrusakan parenkim
- Urinalisa
: peninggian kadar bilirubin;protein/hematuria dapat terjadi
2.8 Penatalaksanaan
Pengobatan
hepatitis virus terutama bersifat suportif dan mencangkup :
- Istirahat sesuai keperluan
- Pendidikan mengenai menghindari
pemakaian alcohol atau obat lain
- Pendidikan
mengenai cara penularan kepada mitra seksual dan anggota keluarga
- Keluarga
dan pasien hepatitis ditawarkan untuk menerima gama globulin murni yang
spesifik terhadap HAV atau HBV yang dapat memberikan imunitas pasif
terhadap infeksi. Imunitas
ini bersifet sementara
- Baru-baru ini FDA memberikan
izin untuk penberian vaksin hepatitis A. vaksin ini dibuat dari virus
hepatitis inaktif. Penelitian-penelitian menunjukan bahwa vaksin ini 96%
efektif setelah pemberian satu dosis.
- Tersedia vaksin untuk HBV,
Karena sifat virus yang sangat menular dan berpotensi menyebabkan
kematian, maka sangat dianjurkan bahwa semua individu yang termasuk
dikelompoknya beresiko tinggi, termasuk para tenaga keshatan atau
orang-orang yang terpajan ke produk darah, vaksinasi. Yang juga dianjurkan
untuk divaksinasi dalah orang-orang yang beresiko terhadap virus, termasuk
kaum homoseksual atau heteroseksual yang aktif secara seksual, pecandu
oabat bius, dan bayi.
- Vaksinasi terhadap HBV dihasilkan
melalui penyuntikan intramuskulus DNA rekombinaan sebanyak tiga kali pada
interval –interval yang telah ditentukan. Dosis pertama dan kedua
diberikan terpisah satu bulan, dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah
dosis ke dua. Vaksinasi ini 85% efektif dalam membentuk kekebalan.
2.9 Komplikasi
Komplikasi
hepatitis adalah timbulnya hepatitis kronik yang terjadi apabila individu terus
memperlihatkan gejala dan antigen virus menetapkan lebih dari 6 bulan. Gambaran
klinis hepatitis aktif kronik atau fulminan mungkin mencengkup gambaran
kegagalan hati diatas, dengan kematian timbul dalam 1 minggu sampai beberapa
tahun kemudian.
2.10 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HEPATITIS
- Pengkajian
1. Keluhan Utama
- Penderita
datang untuk berobat dengan keluhan tiba-tiba tidak nafsu makan, malaise,
demam (lebih sering
pada HVA). Rasa pegal linu dan sakit kepala pada HVB, dan hilang daya rasa
lokal untuk perokok.
2. Pengkajian Kesehatan
a.
Aktivitas
- Kelemahan
- Kelelahan
- Malaise
b.
Sirkulasi
- Bradikardi (hiperbilirubin
berat)
- Ikterik
pada sklera kulit, membran mukosa
- Urine gelap
- Diare feses warna tanah liat
d.
Makanan dan Cairan
- Anoreksia
- Berat badan menurun
- Mual dan muntah
- Peningkatan oedema
- Asites
e.
Neurosensori
- Peka terhadap rangsang
- Cenderung tidur
- Letargi
- Asteriksis
f.
Nyeri / Kenyamanan
- Kram abdomen
- Nyeri tekan pada kuadran kanan
- Mialgia
- Atralgia
- Sakit kepala
- Gatal (pruritus)
g.
Keamanan
- Demam
- Urtikaria
- Lesi makulopopuler
- Eritema
- Splenomegali
- Pembesaran nodus servikal
posterior
h.
Seksualitas
- Pola hidup
/ perilaku meningkat resiko terpajan
Diagnosa
Keperawatan
- Perubahan nutrisi: kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan
metabolik: anoreksia, mual/muntah dan gangguan absorbsi dan metabolisme
pencernaan makanan: penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu
tertahan.
- Gangguan rasa nyaman (nyeri)
berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan
bendungan vena porta.
- Pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan
ekspansi paru dan akumulasi sekret.
Intervensi
Keperawatan
- Diagnosa Keperawatan 1 :
Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan
masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik: anoreksia, mual/muntah dan
gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan: penurunan
peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
Kriteria
Hasil :
- Pasien akan menunjukkan
perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/mempertahankan berat
badan yang sesuai.
- Pasien
akan menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai
laboratorium dan bebas tanda malnutrisi.
Intervensi
:
- Awasi
pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam
frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar.
- Berikan
perawatan mulut sebelum makan.
- Anjurkan
makan pada posisi duduk tegak.
- Dorong
pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen berat sepanjang hari.
- Konsultasikan
pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai
kebutuhan pasien, dengan masukan lemak dan protein sesuai toleransi.
- Awasi glukosa darah.
- Berikan obat sesuai
indikasi
- Berikan tambahan
makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
- Diagnosa Keperawatan 2 :
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang
mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
Kriteria
Hasil :
- Menunjukkan tanda-tanda nyeri
fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis
intensitas dan lokasinya)
Intervensi
:
- Kolaborasi dengan individu
untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
- Tunjukkan pada klien penerimaan
tentang respon klien terhadap nyeri
- Berikan informasi akurat dan
jelaskan penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui.
- Bahas
dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi.
- Diagnosa
Keperawatan 3 : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan
cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret.
Kriteria
Hasil :
- Pola nafas adekuat
Intervensi
:
- Awasi
frekwensi , kedalaman dan upaya pernafasan
- Auskultasi bunyi nafas tambahan
- Berikan posisi semi fowler
- Berikan
latihan nafas dalam dan batuk efektif
- Berikan oksigen sesuai
kebutuhan
BAB III
KASUS
Tn.A 32 tahun,
datng ke UGD Rs GUNUNG
JATI dengan keluhan rasa ngilu seluruh badan, demam, lemas, mual, muntah, TD
120/80, HR 80x/menit, RR 20x/menit, suhu 39c. riwayat minum alcohol + selam 7
tahun lalu, riwayat merokok +, ikterik +, hasil lab HB 10,5, HT 32, leukosit
14800, trombosit 213000, bilirubin direct 6,5 , bilirubin indirect 5,3 ,
bilirubin total 8,5
Tugas :
- Buat data tambahan
- Analisa data
- Buat 3 dx keperawatan
berdasrkan prioritas
- Buat intervensi dan rasional
pada masing2 dx minimal 5
- Buat evaluasi tiap dx
JAWAB:
- Data tambahan
- Warna urin gelap
- Warna feses seperti dempul
- Anoreksia
- Asites
- Gatal seluruh badan (pruritus)
- Albumin 29 g/l
- Nyeri
tekan pada kuadran kanan atas
- Analisa Data
Ds :
- Klien mengatakan nyeri seluruh
badan
- Klien mengatakan demam
- Klien mengatakan mual, muntah
- Riwayat minum alcohol selama 7
tahun
- Riwayat merokok
- Riwayat ikterik
Do :
TTV :
- TD = 120/80
- HR = 80x/menit
- RR = 20 x/menit
- S = 39 0C
Hasil Lab :
- Hb = 10,5
- Ht = 32
- Leukosit = 14800
- Trombosit = 21300
- Bilirubin direk = 6,5
- Bilirubin indirect = 5,3
- Bilirubin total = 8,5
|
No
|
DS +DO
|
Masalah
|
Etiologi
|
|
1
|
DS :
DO : -
DT :
|
Intoleransi Aktivitas
|
Kelemahan Fisik
|
|
2
|
DS :
DO :
DT :
|
Resiko
Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
|
Kegagalan
masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik
|
|
3
|
DS :
DO :
DT :
|
Resiko Infeksi
|
Pertahanan primer tidak adekuat
|
- Diagnosa Keperawatan
- Resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolic
- Intoleransi aktivitas b.d
Kelemahan fisik
- Resiko
Infeksi b.d pertahanan primer tidak adekuat
- Intervensi dan Rasional
- Resiko
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan masukan untuk memenuhi
kebutuhan metabolic
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Selma 7 x 24 jam, masalah nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh teratasi.
Kriteria Hasil :
- Klien tidak mengatakan mual
muntah
- Bilirubin direk
- Bilirubin indirect
- Bilirubin total 0,25 – 1 mg/dl
- Warna urin kuning jernih
- Warna feses kuning kecoklatan
- Anoreksia teratasi
Intervensi
- Awasi pemasukan
diet / jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam
frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling banyak
Rasional :
makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksi. Anoreksi juga paling buruk selama
siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari
- Kolaborasi :
Konsul pada ahli diet, dukung tim
nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien, dengan masukan lemak dan
protein sesuai toleransi
Rasional : bila
toleran, masukan normal atau lebih protein akan membantu regenerasi hati.
Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat( contoh hepatitis kronis)
karena akumulasi pada produk akhir metabolism protein dapat mencetuskan hepatic
ensefalopati.
- Berikan obat terapi steroid,
contoh prednisone (deltasone) tunggal atau kombinasi dengan azatioprin
(imuran).
Rasional : Steroid dapat menurunkan
aminotransferase serum dan kadar bilirubin, tetapi tidak mempengaruhi nekrosis
hati atau regenerasi. Kombinasi terapi mempunyai efek samping lebih sedikit.
- Berikan obat antimetik, contoh
metalopramide (raglan): trimetobenzamit (tigan).
Rasional : diberikan setengah jam
sebelum makan, dapat menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan.
- Berikan tambahan makanan /
nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
Rasional : mungkin perlu untuk
memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan terjadi/ gejala memanjang
- Intoleransi aktivitas b.d
Kelemahan fisik
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x 24 jam masalah intoleransi
aktivitas teratasi
Kriteria Hasil :
- Klien tidak mengatakan lemas
- Klien
tidak mengatakan ngilu seluruh badan
- Asites teratasi
- Nyeri
tekan pada kuadran kanan atas teratasi
Intervensi
- Tingkatkan tirah baring/ duduk.
Berikan lingkungan tenang: batasi pengunjung sesuai keperluan
Rasional : Meningkatkan istirahat
dan ketenangan. Menyediakan energy yang digunakan untuk penyembuhan.
- Ubah posisi dengan sering
Rasional :
Meminimalkan tekanan pada area tertentu
- Lakukan tugas dengan cepat dan
sesuai toleransi
Rasional : Memungkinkan periode
tambahan istirahat tanpa gangguan
- Awasi
terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati
Rasional : Memerlukan istirahat
lanjut, mengganti program terapi
- Kolaborasi :
Berikan antidote/ bantu dalam
procedure sesuai indikasi (contoh lavase, katersis, hiperventilasi) tergantung
pada pemajanan
Rasional :
Membuang agen pada hepatitis toksik dapat membatasi derajat kerusakan jaringan
- Resiko
Infeksi b.d pertahanan primer tidak adekuat
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawtan selama 3x24 jam, masalah infeksi teratasi
Kriteria Hasil :
- Demam teratasi
- Suhu 36-370C
- Leukosit 6000-9000
Intervensi
- Lakukan teknik isolasi untuk
infeksi enteric dan pernafasan sesuai kebijakan rumah sakit: termasuk cuci
tangan efektif
Rasional : mencegah transmisi
penyakit virus ke orang lain. Melalui cuci tangan efektif dalam mencegah
transmisi virus.
- Membatasi pengunjung sesuai
indikasi
Rasional : Pasien terpajan terhadap
proses infeksi (khususnya respiratorius) potensial resiko komplikasi sekunder.
- Jelaskan
prosedur isolasi kepada pasien/ orang terdekat
Rasional :
pemahaman alas an untuk perlindungan diri mereka sendiri dan orang lain dapat
mengurangi perasaan isolasi dan stigma. Isolasi dapat berakhir 2-3 minggu dari
timbulnya penyakit, tergantung pada tipe atau lamanya gejala
- Berikan
informasi tentang adanya gamma globulin, ISG, HBig, Vaksin hepatitis B
(recombivax HB, engerix-B) melalui departemen kesehatan atau dokter
keluarga.
Rasional :
efektif dalam mencegah hepatitis virus pada orang yang terpajan tergantung tipe
hepatitis da periode inkubasi
- Berikan
obat sesuai indikasi antibiotic tepat untuk agen pencegahan (contoh gram
negative, bakteri anaerob) atau proses sekunder.
Rasional : pengobatan hepatitis
bacterial atau untuk mencegah/ membatasi infeksi sekunder
5. Evaluasi
Dx1:Resik Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolic
- Klien tidak mengatakan mual
muntah
- Bilirubin direk
- Bilirubin indirect
- Bilirubin total 0,25 – 1 mg/dl
- Warna urin kuning jernih
- Warna feses kuning kecoklatan
- Anoreksia teratasi
S: - Klien
mengatakan mual muntah tidak ada
O: - bilirubin direk=
- Bilirubin indirek=
- Bilirubin total=0,25-1 mg/dl
- Klien
menghabiskan porsi makan yang diberikan
- Warna fesses kuning kecoklatan
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
Dx2: Intoleransi aktivitas b.d
Kelemahan fisik
S:
- klien mengatakan keadaannya mulai membaik
- Klien mengatakan ngilu diseluruh badab
sudah hilang
- Klien
mengatakan nyeri tekan pada kuadran kanan atas = 0
O:
- klien tampak segar
- Asites (-)
A:
masalah teratasi
P:
Hentikan intervensi
Dx3: resiko
Infeksi b.d pertahanan primer tidak adekuat
Kriteria Hasil :
- Demam teratasi
- Suhu 36-370C
- Leukosit 6000-9000
S: -
O: - suhu= 36-370c
-leukosit=6000-9000
-tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada
teori dan kasus di atas, tidak terdapat banyak perbedaan yang ditimbulkn dari
gejala klinis, patofisiologis dan lain-lain. Pada kasus didapatkan data klien dengan keluhan
rasa ngilu seluruh badan, demam, lemas, mual, muntah, hal ini serupa dengan
gejala klinis yang mungkin timbul pada teori hepatitis. Ngilu, nyeri pada
kuadran kanan atas, anoreksia dan mual muntah merupakan bentuk ketidak yamanan
dari manifestasi akibat inflamasi hepar yang menyebabkan peregangan
hati.ketidak nyamanan di atas juga mempengaruhi denyut nadi klien yang menjadi
meningkat. Demam merupakan salah satu bentuk manifestasi dari proses inflamasi
hepar. lemas, merupakan manifestasi dari peoses penyakit akibat terjadinya
inflamasi pada hepar yang menimbulkan gangguan suplai darah normal ke sel-sel
hepar yang mengakibatkan kerusakan parenkim, sel hati, dan duktuli empedu
inhaperatik yang akan mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak dan protein
sehingga timbul kelemahan/keletihan. Bentuk respon lain dari proses inflamasi
pada hepar yang timbul pada kasus antara lain, adanya demam, peningkatan suhu,
dan peningkatan leukosit. Gangguan metabolisme pada klien ditandai dengan
ikterik, dan berbagai pemeriksaan bilirubin yang dilakukan. Pada kasus dapat
disimpulkan bahwa klien bukan mengalami hepatitis virus melainkan hepatitis non
virus yang dibuktikan dengan adanya riwayat mengkonsumsi alkohol lenih dari 7
tahun dan merokok.
Berdasarkan
data-data di atas kelompok sepakat mengambil diagnosa utama yaitu resiko perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan karena .nutrisi
merupakan hal terpenting dalam tubuh manusia, gangguan nutrisi sangat
berpengaruh terhadap kerja metabolism tubuh hal ini akan memperparah keadaan
apabila tidak segera diatasi. Diagnosa selanjutnya yang kelompok ambil
adalah intoleransi aktivitas b.d kelemahan
fisik karena apabila
klien mengalami intoleransi aktivitas otomatis klien tidak dapat melakukan
aktivitas yang biasa dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan maka dari itu kami
mengangkat diagnose ini sebagai diagnose ke dua. Dan diagnosa ketiga yang dapat ditarik yaitu resiko infeksi b.d pertahana primer
tidak adekuat karena data-data
tnda infeksi belum kita temukan secara lengkap oleh sebab itu kelompok
meletakkan diagnose itu sebagai diagnose ketiga
Untuk
intervensi pada diagnosa pertama, kelompok sepakat untuk melakukan tindakan
yang menetapkan prinsip menjaga
keseimbangan nutrisi klien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi kilen, dan pada diagnosa
kedua perinsip intervensi yang harus dilakukan adalah memberikan latihan fisik untuk
mencegah terjadinya atropi pada otot, dan memberikan latihan mandiri klien
untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Pada diagnosa ketiga, kita dapat mencagah timbulnya tanda-tanda
infeksi lebih lanjut dan memberikan kolaborasi obat antibiotik untuk dapat
menanganni masalah di atas.
BAB V
SIMPULAN dan SARAN
- Simpulan.
Hepatitis
merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang perlu segera ditanggulangi,
mengingat prevalensi yang tinggi dan akibat yang ditimbulkan hepatitis.
Penularan hepatitis terjadi melalui kontak dengan darah / produk darah, saliva,
semen, alat-alat yang tercemar hepatitis dan inokulasi perkutan dan subkutan
secara tidak sengaja. Penularan secara parenteral dan non parenteral serta
vertikal dan horizontal dalam keluarga atau lingkungan. Resiko untuk terkena
hepatitis di masyarakat berkaitan dengan kebiasaan hidup yang meliputi
aktivitas seksual, gaya hidup bebas, serta pekerjaan yang memungkinkan kontak
dengan darah dan material penderita. Pengendalian penyakit ini lebih
dimungkinkan melalui pencegahan dibandingkan pengobatan yang masih dalam
penelitian. Pencegahan dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit dengan
kegiatan Health Promotion dan Spesifik Protection, maupun pencegahan penyakit
dengan imunisasi aktif dan pasif.
Setelah hepatitis virus akut, sejumlah kecil pasien akan
mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusaklaan hati
seperti digerogoti ( piece meal ) dan berkembang sirosis. Kondisi ini dibedakan
dari hepatitis kronik persisten dengan biopsy hati. Terapi kortikosteroid dapat
memperlambat perluasan cedera hati, namun prognosis tetap buruk. Kematian
biasanya terjadid alam 5 tahun akibat gagal ginjal atau komplikasi sirosis.
Hepatitis kronik aktif dapat berkembang pada hampir 50 % pasien dengan HCV;
sedangkan troporsinya pada penderita HBV jauh lebih kecil ( sekitar 1 – 3 %).
Sebaiknya hepatitis kronik umumnya tidak menjadi komplikasi dari HAV atau HEV.
Tidak semua kasus hepatitis kronik aktif terjadi menyusul hepatitis virus akut.
Obat-obatan yang dapat terlibat dalam patogenesis kelainan ini termasuk
alfametildopa ( aldomet, isoniazid, sulfonamide dan aspirin).
- Saran
Untuk
menghadapi penyakit yang belum ditemukan obatnya seperti hepatitis ini,
tindakan pencegahan adalah pilihan utama kita. Setelah membaca dan mengetahui
cara penularanya, sebetulnya kita semua sudah mengerti apa yang harus kita
kerjakan supaya terhindar dari penyakit menahun ini. Karena jalur penularan
terutama lewat suntikan, maka setiap kali disuntik harus yakin bahwa jarumnya
steril. Yang praktis adalah penggunakan jarum baru atau disposibel ( sekali
pakai buang). Dan yang paling penting adalah melakukan vaksinasi, vaksin
merupakan suatu zat ( antigen) yang jika disuntikan ke dalam tubuh kita dapat
merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan zat anti ( antibody)
terhadap antigen tersebut.
Sebaiknya bagi penderita hepatitis segera mendapatkan
perawatan secepatnya agar tidak bertambah parah hingga menyebabkan kanker hati.
Dan perawat harus memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga
klien yang belum megetahui bahaya dan cara pencegahan hepatitis sedini mungkin.
Daftar Pustaka
Daft Chandrasoma, parakrama. 2006.
Patologi Anatomi. Jakarta:Buku Kedokteran EGC.
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana
Asuhan Keperawatan. Jakarta:Buku Kedokteran EGC.
Sherwood,
Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Smeltzer, suzzane C. 2002.
Keperawatan Medikal Bedah vol 2 Jakarta:Buku Kedokteran EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar